Jumat, 23 November 2012

Belanja Murah dan Kocak, ya di Hatyai



Laporan Perjalanan (1) - Yetti  Harni

Awalnya tak ada maksud mengunjungi  Hatyai Thailand Selatan, karena tujuan utama ke  Kedah, Malaysia bagian Utara (berbatasan langsung dengan Thailand Selatan) hanyalah menghadiri wisuda putri saya Rahma Mutiara Jeyhan di  Universiti Utara Malaysia (UUM). Cuma saja karena penginapan di komplek UUM, Changlun, Perlis hingga ke Alor Star full-booked, kami hanya  dapat masuk penginapan sehari menjelang wisuda. Itupun menyewa apartemen salah seorang mahasiswa disana.
Tapi apa boleh buat,  keberangkatan telah ditetapkan empat hari lebih awal dari hari wisuda. Mau nginap dimana, kebingunganpun mendera. Di Kuala Lumpur, wah mahal tak ketulungan, bisa bisa habis ringgit kita yang tak seberapa. Oke, kita ke Hatyai saja, ujar putriku. Jarak dari gerbang UUM ke border (perbatasan) Bukit Kayu Hitam hanya sekitar 6 km saja atau sekitar 10 menit, dan dari border ke Hatyai lebih kurang dalam satu jam perjalanan. Menurut teman temannya yang pernah  kesana  penginapan di Hatyai banyak dan murah.
Perjalanan  darat dari terminal bus Puduraya Kuala Lumpur- Hatyai  dapat ditempuh sekitar 10 jam, dengan biaya  hanya  45-60 Ringgit Malaysia (1 Ringgit= 3.100 Rupiah) bus  ekslusif tersebut dilengkapi dengan colokan untuk mengecas HP atau laptop.
Namun bagi yang ingin bepergian dengan kereta api, lama perjalanan mencapai sekitar 13 jam dari KL Sentral di Kuala Lumpur. KA ini berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang di banyak stasiun. Ongkosnya 52 ringgit/orang bagi tempat tidur bagian atas, dan 58 ringgit bagi penumpang bagian bawah. Sementara untuk gerbong dengan kursi seperti di bus, tiket dijual seharga 46 ringgit/orang, dengan bangku yang bisa di stel memungkinkan penumpang untuk tidur berbaring.
Embun masih membekas  di pepohonan, namun Hatyai sebuah kota paling selatan Thailand   tampak sibuk . Anak anak yang berboncengan tanpa helem berburu ke sekolah, sopir   tuk-tuk (angkot seperti oto cigak baruak di Sumbar) yang mencari penumpang,  kafe-kafe hingga pedagang K-5 pagi yang menawarkan pernik pernik Thailand saling berpacu  dengan waktu. Saya yang baru saja menginjakkan kaki awal  Oktober 2012 disuguhi lembaran peta Hatyai  oleh  seseorang, menjadi yakin, ini  Hatyai adalah sebuah kota kecil, namun  memiliki nilai wisata yang tinggi.
Dugaan saya tak salah, karena  selain memiliki  objek wisata khas seperti, Klong Hae Floating Market, pasar terapung di bagian utara Kota Hatyai yang menjual berbagai macam makanan khas Thailand di atas perahu-perahu kecil. Masih ada lagi Hat Yai Municipal Park, Ton Nga Chang Waterfall, Hat Yai Observatory, Hat Yai Ice Dome dan pasar malam murah di Greenway Market dan ASEAN Market, dikiri kanan jalan begitu banyaknya hotel, rumah pijat, rumah cantik, departement store, kafe dengan  berbagai masakan hingga para  pedagang souvenir.
Hotel Cholatarn di Jalan Aengchan pun akhirnya menjadi pilihan tempat menginap. Pertimbangannya selain  bagus, bersih, berada pusat kota, dan  harganyapun   terbilang murah,  550 bath atau Rp. 155.000/malam. Kemanapun bisa ditempuh dengan jalan kaki, termasuk ke Lee Garden Plaza Hotel dengan sederetan penjual souvenir dan makanan di depannya serta mall kebanggaan kota yang  berpenduduk sekitar 157an ribu orang di pusat bandaraya dan 800ribuan orang di Hatyai Besar (data 2008) itu.
Rasanya tak hendak berlama lama di hotel, karena lezatnya masakan Thailand  sudah terasa sampai ke lidah.  Tomyam, ayam atau udang berkuah dengan bumbu special dan   somtam akan terasa lebih nikmat jika dibuat dan dicicipi di daerahnya sendiri.
Walau begitu bagi umat muslim hendaknya lebih  berhati hati karena  banyak kafe menyediakan  makanan haram (babi). Agar lebih aman  kunjungilah kafe  berlabel muslim atau halal. Umumnya  kafe ini dikelola  oleh muslim Thailand atau  Melayu Malaysia.  Salah satunya adalah  Kafe Kelantan yang bersebelahan dengan Hotel Cholatarn.
Dalam membeli makanan ringanpun perhatikan petunjuk bahan dan bumbunya pada kemasan, karena saya menemukan pizza ukuran mini yang  dibungkus dengan plastik  mengandung unsur babi. Kalau enggan membaca kemasannya, baiknya beli  makanan pada pedagang kaki lima, dimana kita dapat melihat dan mengenali bahan dan cara pembuatannya. Jajanan kaki limapun tak kala serunya, tak percaya, coba saja Pulut Mangga, Nasi Briyani Thai, ayam krispi, udang dan cumi dengan saos nano nanonya.
Secara umum berbelanja di kota Hatyai provinsi Songkla ini amatlah  murah. Baju baju bola atau jersey perbandingan harganya dengan di Indonesia bisa  1:3,  itu sebabnya  ada pedagang Indonesia  membeli langsung baju bola ke Hatyai  untuk dijual kembali di Indonesia.
Lainnya,  sebuah tas bermerek LV (entah KW berapa)  yang di  Bukitinggi dibandrol Rp. 750 ribu, disana dapat dibeli seharga  1500 bath (sekitar Rp. 450 ribu, jika 1 bath = Rp. 300). Begitu juga rok Thailand, kalau di  Indonesia harganya Rp. 250 s/d Rp. 300 ribu)  jenis yang sama  di Hatyai dapat dibeli seharga  Rp. 150-Rp. 175 ribu).
Sayangnya, sering terjadi miskomunikasi antara penjual dan pembeli, terlebih di toko-toko kecil, dimana penjaganya tak semua mengerti bahasa Inggris. Kalaupun ada itupun terbata bata dan sulit  dimengerti. Alhasil tak jarang  berbelanja memakai kata isyarat. Misalnya menuliskan harga barang di kertas, untuk menawar di bikin lagi  dikertas yang sama. Cara lain, ada juga  pedagang memperagakan uang Bathnya sebagai penunjuk harga. Yang membelipun mengerti, kalau ingin menawar uang Bath tadi dikurangi oleh pembeli.
Pengalaman sayapun tak  kala menarik ketika mencari pisau lipat  untuk mengupas mangga. Saya mendatangi toko Cina di Pasar  Kim Yong. Setelah bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris  apakah ada menjual pisau,  si bapak  tak tau harus ngomong apa.  Kamipun menggunakan bahasa isyarat, diapun tak tangkap. Hasilnya saya buatkan gambar pisau dikertas, iapun tertawa sambil mengacungkan  jempol.
Cuma saja yang diberikan bukan pisau lipat, namun pisau dapur yang tajam.  Wah saya tak butuh itu, lagi lagi kami tersenyum seraya menggambar ulang  pisau lipat serinci rincinya. Huff, sayapun menghela nafas, namun diakui sang pedagang kelontong ini termasuk yang ramah. Sebab, kebanyakan pedagang tak mau direpotkan.
Bahkan kalau barang sudah ditawar, atau kita minta ukuran/warna yang lain konsekuensinya harus dibeli, kalau tidak mereka akan cemberut dan mengeluarkan caci maki. Intinya, jangan banyak tanya, tak ada yang cocok tinggalkan toko mereka segera, kebiasaannya barang yang kita pegang langsung dibungkus dan disodorkan untuk dibayar. Wah, repot! (bersambung)                  
                   
                  
      
                   

1 komentar: